keluarga allah di dunia
Allah SWT memerintahkan selalu menjaga silaturahmi hubungan dengan keluarga sendiri dan keluarga besar. Biar semua sukses dan bahagia kita harus tenang dalam rumah, kalau di rumah tidak senang dan hati tidak tenang, maka segala sesuatu di luar rumah akan terusik," kata Syekh Hussein Jaber dikutip dari Kanal YouTube RCTI - Entertainment, Sabtu
KeluargaBerencana di Kecamatan Simangambat Kabupaten Padang Lawas Utara untuk Desa Huta Baringin.Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui (1).Bagaimana pelaksanaan Peraturan Presiden No. 87 tahun 2014 tentang Keluarga Berencana di Kecamatan Simangambat Kabupaten Padang Lawas Utara untuk Desa Huta Baringin. (2).
KhutbahJumat: Untuk Apa Kita Diciptakan Di Dunia Ini? (Ustadz Ihsanudin) Allah Ta’ala sudah menjelaskan dengan sangat gamblangnya di dalam Al Qur’an apa yang menjadi tujuan kita hidup di muka bumi ini. Cobalah kita membuka lembaran-lembaran Al Qur’an dan kita jumpai pada surat Adz Dzariyat ayat 56. Di sana, Allah Ta’ala berfirman
KekuasaanAllah yang Ada di Dunia. Kekuasaan Allah meliputi seluruh alam semesta, diantara kekuasaan Allah adalah : 1. Terciptanya bumi. Bumi merupakan tempat tinggal manusia, tempat mereka hidup dan mencari penghidupan. Di dalam bumi sendiri terdapat banyak sekali tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan bahwa Dia-lah yang Maha Pencipta lagi
Kontemplasidi Tengah Zaman. Dalam dunia yang kompleks ini, kita diajak untuk membangun kehidupan dengan semangat kontemplasi, agar dalam dan melalui kontemplasi kita dapat menemukan makna dan orientasi hidup kita yang sesungguhnya; yang hanya berpusat pada Allah sendiri sebagaiman Keluarga Kudus Nazaret. Berkontemplasi dapat membuat hidup kita
Site De Rencontre Gratuit 33 Sans Inscription. SELURUH sahabat bunda yang dicintai dan mencintai Allah, Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad bin Hambal, Nabi memberitahukan adanya ahli keluarga Allah di muka bumi ini. Para sahabat bertanya, “Siapakah yang dimaksud dengn Ahlullah itu, ya Rasulullah?” Nabi menjelaskan, “Mereka adalah Ahlul Qur’an, Ahlullah dan orang-orang yang Dia khususkan.” Sahabat Bunda, betapa bahagianya menjadi keluarga orang besar selayak Menteri, Gubernur, Presiden yang amanah. Betapa bahagianya menjadi keluarga ustadz, dai, ulama, juga orang-orang shalih. Tapi sahabat, Allah Azza wa Jalla dengan terang memberikan tawaran yang jauh lebih mulia, yakni menjadi keluarga’-Nya. Bagaimana caranya? Dengan berinteraksi bersama Al-Qur’an yang mulia. BACA JUGA Beramal Melalui Kerja Dimulai dari mencintai para ahli Al-Qur’an, belajar membaca dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an secara rutin meski beberapa ayat, menghafalkan ayat-ayat yang terbiasa kita baca, mendakwahkan Al-Qur’an kepada keluarga dan orang sekitar, juga berupaya mengamalkan Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan terbaik yang kita miliki. Sahabat Bunda, Al-Qur’an adalah kunci kebangkitan. Siapa dekat, berinteraksi, dan mengamalkan Al-Qur’an, dia akan berjaya di dunia sampai akhirat. Sebaliknya, para penista dan pembenci Al-Qur’an dijanjikan oleh Allah derajat yang rendah, kehinaan, dan kenistaan ternista. Sahabat Bunda, Nabi juga berjanji. orang terbaik bukan yang paling tampan atau paling cantik, bukan yang paling gagah atau paling kuat, bukan pula yang paling kaya atau memiliki jabatan yang tinggi. Kata Nabi, manusia terbaik adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Yuk sempatkan diri membaca Al-Qur’an. Pasti ada kedamaian di hati saat membaca Al-Qur’an. Saat hati damai, pikiran menjadi tenang, insya Allah bekerja pun akan optimal. Tentu, berujung pada hasil yang menakjubkan. BACA JUGA Riba Pasti Membunuhmu Ya Allah, limpahkan Kasih Sayang kepada kami melalui kemuliaan Al-Qur’an. Ya Allah, berikan kami syafaat Al-Qur’an di dunia sampai akhirat. Jadikan kami “keluarga-MU” di dunia ini. Aamiin. Salam untuk keluarga Bunda Ermi [] —————————— Ikuti sejuknya Pesan Bunda Ermi lainnya di Channel TELEGRAM. Cukup klik Yuk dukung gerakan GerakanNasiBerkahJumat Rp 20 RIbu/paket nasi untuk yatim dan dhuafa di Jabodetabek bareng Majelis Keluarga Indonesia pimpinan Babeh Haikal Hasan. Transfer ke rekening Ahmad Haikal Hasan, Bank Muamalat ATM 147 3010187415. Jangan lupa kasih kode 02 di akhir angka transfer.
Jakarta, —Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai mahluk yang diciptakan oleh Allah SWT sebaik-baiknya umat yakni untuk menyembah-NYA. Salah satu bentuk kecintaan kita sebagai mahluk-NYA yakni dengan membaca dan mempelajari kitab Suci Al-Quran. Dalam mempelajari Al-Quran seperti membaca, kita juga pelajari ilmu tajwid atau tahsinnya. Setelah itu mulailah dengan belajar menghafalkannya. Mengenai hafalan Al-Quran merupakan fase dimana amat menguji kesabaran dan konsistensi. Salah satu keistimewaan dari Al-Quran adalah mudah dihafalkan. Maka, sebetulnya setiap manusia memang berpotensi untuk bisa menjadi seorang penghafal Al-Quran. Seseeorang yang berusaha menjadi penjaga Al-Quran, yakni dengan membaca dan menghafal Al-Quran sesuai dengan yang telah Rasul contohkan, juga akan berusaha mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Seperti menjadi hafizh Quran yang merupakan seorang yang mampu menghidupkan Al-Quran di dalam hatinya. Hafizh Quran, mampu menyalakan potensi dan semangat didalam hatinya. “Sesungguhnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang QS Al-Ankabut 49 Percayalah, bahwa Al-Quran itu memang ‘hidup’. Jika kita mengaku cinta Al-Quran, maka perlu pembuktian dan pengorbanan. Bukankah sejatinya cinta itu adalah tindakan? Seumpama kekasih, atau sahabat dekat … maka Al-Quran pun butuh ‘perhatian’, butuh pertemuan intens, bahkan Al-Quran bisa cemburu. Dengan upaya dan usaha kita untuk membaca, menghafal dan mengamalkan Al-Quran otomatis kita sedang menjaga diri. “Barangsiapa yang membaca menghafal Al-Quran, maka sungguh dirinya telah menyamai derajat kenabian hanya saja tidak ada wahyu baginya penghafal. Tidak pantas bagi penghafal Al-Quran bersama siapa saja yang ia dapati dan tidak melakukan kebodohan terhadap orang yang melakukan kebodohan selektif dalam bergaul sementara dalam dirnya terdapat firman HR. Hakim Untuk diketahui bahwa para penghafal Al-Quran adalah keluarga Allah di dunia. Selain itu seorang penghafal Al-Quran tentunya bisa mengangkat kemuliaan keluarganya sendiri khususnya orang tua. “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia…†Kemudian Anas berkata lagi, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?†Baginda manjawab, “yaitu ahli Quran orang yang membaca atau menghafal Quran dan mengamalkannya. Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi HR. Ahmad “Siapa yang membaca Al-Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah kemuliaan, yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Quranâ€. HR. Al Hakim Andy Abdul Hamid
Keluarga-keluarga yang terkasih,Sahabat-sahabatku yang terkasih dalam Kristus,Saya berterima kasih atas kehadiran Anda sekalian di sini malam ini dan untuk kesaksian akan cinta kalian kepada Yesus dan Gereja-Nya. Saya berterima kasih kepada Uskup Reyes, Ketua Komisi Keluarga dan Kehidupan dari Konferensi Para Uskup, atas kata-kata sambutannya mewakili Anda sekalian. Dan, secara khusus, saya berterima kasih kepada mereka yang telah memberikan kesaksian-kesaksian dan telah membagikan pengalaman hidup beriman mereka dengan kita Suci jarang berbicara mengenai Santo Yosef, tetapi ketika berbicara, kita sering menemukan dia sedang beristirahat, sebagaimana terjadi saat malaikat mengungkapkan kehendak Allah kepadanya dalam mimpi-mimpinya. Dalam penggalan Injil yang baru saja kita dengarkan, kita menemukan Yosef beristirahat tidak hanya sekali, tapi dua kali. Malam hari ini saya ingin beristirahat dalam Tuhan bersma dengan kalian semua, dan untuk merenungkan bersama dengan Anda sekalian akan karunia dari hidup penting untuk bermimpi dalam keluarga. Semua ibu dan ayah memimpikan putra dan putri mereka selama masa 9 bulan di dalam rahim. Mereka bermimpi bagaimana mereka nanti. Tidaklah mungkin untuk memiliki keluarga tanpa impian-impian seperti ini. Ketika Anda kehilangan kemampuan untuk bermimpi, Anda kehilangan kemampuan untuk mencintai, kemampuan untuk mencintai sirna. Saya anjurkan agar ketika Anda sekalian pemeriksaan batin saat malam hari, tanyakanlah kepada diri Anda sendiri apakah Anda memimpikan masa depan putra dan putri Anda. Apakah Anda memimpikan suami atau istri Anda? Apakah hari ini Anda bermimpi tentang orang tua Anda, kakek-nenek Anda yang menghantar keluarga kalian kepada saya? Adalah sangat penting untuk bermimpi dan terutama untuk bermimpi dalam keluarga. Janganlah sampai kehilangan kemampuan untuk bermimpi dengan cara ini. Ada begitu banyak solusi untuk permasalahan keluarga yang dapat ditemukan bilamana kita mengambil waktu untuk merenung, jika kita memikirkan tentang seorang suami atau seorang istri, dan kita memimpikan tentang sifat-sifat baik yang mereka miliki. Jangan pernah kehilangan memori ketika Anda masih berpacaran sebagai seorang cowok atau cewek. Itu sangat Yosef mengungkapkan apa yang menjadi kehendak Allah darinya. Pada saat beristirahat di dalam Tuhan, sementara kita diam sejenak dari kewajiban dan kegiatan kita sehari-hari, Allah juga berbicara kepada kita. Dia berbicara kepada kita melalui bacaan yang baru saja kita dengarkan, dalam doa dan kesaksian kita, dan dalam keheningan batin kita. Mari kita merenungkan apa dikatakan Tuhan kepada kita, terutama dalam Injil malam hari ini. Ada tiga aspek dari penggalan bacaan ini yang saya ingin Anda pertimbangkan beristirahat di dalam Tuhan, bangkit bersama Yesus dan Maria, dan menjadi pribadi dengan suara dalam Tuhan. Istirahat sangat diperlukan untuk kesehatan pikiran dan tubuh kita, dan seringkali hal ini begitu sulit dicapai karena banyaknya tuntutan yang diletakkan atas kita. Tetapi istirahat juga penting bagi kesehatan rohani kita, sehingga kita bisa mendengar suara Allah dan memahami apa yang Ia kehendaki dari kita. Yosef dipilih oleh Allah untuk menjadi bapak pemelihara bagi Yesus serta sebagai suami bagi Maria. Sebagai orang Kristen, Anda juga dipanggil, seperti Yosef, untuk membangun sebuah rumah bagi Yesus. Anda membangun sebuah rumah bagi-Nya di dalam hatimu, di dalam keluargamu, di dalam paroki-paroki dan mendengar dan menerima panggilan Allah, untuk membangun suatu rumah bagi Yesus, Anda harus dapat beristirahat di dalam Tuhan. Anda harus menyediakan suatu waktu setiap hari untuk berdoa. Tetapi Anda mungkin berkata kepada saya Bapa Suci, saya ingin berdoa, tetapi ada begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan! Saya harus mengurus anak-anak saya; Saya punya tugas-tugas di rumah; Saya bahkan terlalu lelah untuk bisa tidur dengan nyenyak. Ini mungkin benar, tetapi jika kita tidak berdoa, kita tidak akan tahu hal yang paling penting dari itu semua yaitu kehendak Allah bagi kita. Dan untuk semua aktivitas kita, kesibukan kita, bilamana itu dilakukan tanpa doa, kita hanya akan meraih hasil yang sangat dalam doa sangatlah penting terlebih khusus bagi keluarga-keluarga. Di dalam keluargalah kita pertama kali belajar bagaimana berdoa. Dan jangan lupa, keluarga yang berdoa bersama, lestari bersama. Hal ini penting. Disanalah, di dalam keluarga, kita mengenal Allah, dalam keluargalah kita tumbuh menjadi pria dan wanita yang beriman, di dalam keluargalah kita melihat diri kita sebagai bagian dari anggota keluarga besar Allah, yaitu Gereja. Dalam keluarga kita belajar bagaimana mengasihi, mengampuni, untuk bermurah hati dan terbuka, untuk tidak tertutup dan egois. Kita belajar untuk bergerak melampaui kebutuhan kita sendiri, untuk berjumpa dengan orang lain dan untuk berbagi hidup dengan mereka. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi kita untuk berdoa sebagai sebuah keluarga! Itulah sebabnya mengapa keluarga sangat penting dalam rencana Allah bagi Gereja!Saya ingin memberitahu Anda sesuatu yang sangat pribadi. Saya sangat menyukai St. Yosef. Dia adalah pria yang kuat dalam keheningan. Di atas meja saya, saya memiliki patung St. Yosef yang sedang tidur. Sementara tidur, ia menjaga Gereja. Ya, dia bisa melakukannya! Kita tahu itu. Ketika saya punya suatu masalah atau kesulitan, saya menuliskannya di selembar kertas, dan saya meletakkannya di bawah patungnya, sehingga ia bisa memimpikan tentang hal itu. Maksudnya ialah berdoalah kepada St. Yosef untuk masalah bangkit bersama Yesus dan Maria. Momen-momen berharga saat beristirahat, beristirahat dengan Tuhan dalam doa, mungkin adalah saat yang tidak pernah kita inginkan untuk berakhir. Tetapi, seperti Santo Yosef, setelah kita telah mendengar suara Tuhan, kita harus bangun dari tidur kita; kita harus bangkit dan bertindak bdk. Rom. 1311. Iman tidak membuat kita terpisah dari dunia, tetapi justru semakin menarik kita untuk tenggelam di dalamnya. Masing-masing dari kita, pada kenyataannya, memiliki peran khusus dalam mempersiapkan kedatangan kerajaan Allah di dunia kita seperti karunia Keluarga Kudus dipercayakan kepada Santo Yosef, demikian juga karunia dari keluarga dan tempatnya dalam rencana Allah dipercayakan kepada kita sekalian, sehingga kita bisa mengedepankan hal ini. Kepada masing-masing dari Anda dan kita sekalian karena saya juga adalah seorang anak dari sebuah Tuhan mewahyukan kepada Yosef bahaya yang mengancam Yesus dan Maria, memaksa mereka untuk mengungsi ke Mesir dan kemudian menetap di Nazareth. Demikian juga, di zaman kita, Allah memanggil kita untuk mengenali bahaya yang mengancam keluarga-keluarga kita sendiri dan untuk melindungi mereka dari marabahaya. Kita harus memperhatikan dengan cermat bentuk penjajahan ideologi terhadap penjajahan ideologi baru yang mencoba untuk menghancurkan keluarga. Ini tidak lahir dari mimpi yang kita dapat dari Allah dan doa – itu berasal dari luar dan itulah sebabnya saya menyebutnya suatu bentuk penjajahan. Janganlah kita kehilangan kebebasan untuk mengedepankan misi yang telah Tuhan berikan kepada kita, yaitu misi keluarga. Dan sebagaimana rakyat kita di masa lalu mampu untuk mengatakan "Tidak" kepada periode penjajahan, sebagai keluarga kita harus sangat bijaksana dan kuat untuk mengatakan "Tidak" untuk setiap usaha penjajahan ideologis yang bisa menghancurkan keluarga. Dan untuk meminta perantaraan St. Yosef agar tahu kapan harus berkata "Ya" dan kapan harus mengatakan "Tidak" ....Tekanan-tekanan bagi kehidupan berkeluarga saat ini begitu banyak. Di sini di Filipina, tak terbilang banyaknya keluarga yang masih menderita dampak dari bencana-bencana alam. Situasi ekonomi telah menyebabkan keluarga-keluarga untuk dipisahkan oleh migrasi dan usaha untuk mencari pekerjaan, serta berbagai masalah keuangan yang menghimpit banyak rumah tangga. Sementara terlalu banyak orang hidup dalam kemiskinan yang parah, yang lain terjebak dalam materialisme dan gaya hidup yang merusak kehidupan keluarga dan tuntutan yang paling mendasar dari moralitas Kristiani. Keluarga juga terancam oleh semakin berkembangnya upaya dari sebagian orang untuk meredefinisikan kembali institusi pernikahan, dengan relativisme, dengan budaya yang fana, dengan kurangnya keterbukaan terhadap teringat akan Beato Paulus VI ketika berada ditengah tantangan pertumbuhan penduduk, ia memiliki kekuatan untuk mempertahankan keterbukaan kepada kehidupan. Dia tahu kesulitan yang dihadapi oleh keluarga-keluarg, dan itulah sebabnya dalam ensikliknya Humanae Vitae, ia menyatakan kasih sayangnya untuk kasus-kasus tertentu, dan ia mengajarkan kepada para bapa pengakuan untuk secara khusus memiliki belas kasih dalam kasus-kasus tertentu. Tetapi dia melihat lebih jauh lagi; ia memandang orang-orang di bumi ini dan melihat ancaman dari kehancuran keluarga ini yang hendak merampas hak anak-anak. Paus Paulus VI adalah seorang yang berani, seorang gembala yang baik dan ia memperingatkan domba-dombanya tentang serigala yang mendekat. Dan dari surga ia memberkati kita hari kita membutuhkan keluarga-keluarga yang baik dan kuat untuk mengatasi ancaman-ancaman ini! Rakyat Filipina membutuhkan keluarga-keluarga yang kudus dan penuh kasih untuk melindungi keindahan dan kebenaran keluarga dalam rencana Allah, dan untuk menjadi sokongan dan teladan bagi keluarga-keluarga lainnya. Setiap ancaman bagi keluarga merupakan ancaman bagi masyarakat itu sendiri. Masa depan umat manusia, sebagaimana sering dikatakan oleh Santo Yohan Paulus II, dibawa melalui keluarga bdk. Familiaris Consortio, 85. Oleh karena itu, lindungilah keluarga-keluarga Anda! Lihatlah keluarga-keluargamu sebagai harta terbesar negaramu dan lestarikanlah selalu dengan doa dan rahmat dari sakramen-sakramen. Keluarga-keluarga akan selalu memiliki pergumulan masing-masing, tetapi semoga Anda tidak menjadi sebab yang menambah pergumulan mereka! Sebaliknya, jadilah teladan hidup dalam kasih, pengampunan dan kepedulian. Jadilah suatu tempat berlindung dari penghormatan akan kehidupan, untuk menyatakan kesucian dari setiap kehidupan manusia sejak dikandung sampai kematian yang wajar. Sungguh betapa ini akan menjadi anugerah bagi masyarakat, manakala setiap keluarga Kristen menghidupi secara penuh panggilan mulianya! Jadi bangkitlah bersama Yesus dan Maria, dan melangkahlah di jalan yang Tuhan kehendaki bagi kita Injil yang telah kita dengarkan mengingatkan kita tugas Kristen kita untuk menjadi suara kenabian di tengah-tengah komunitas kita masing-masing. Yosef mendengarkan pesan malaikat Tuhan dan menanggapi panggilan Allah untuk merawat Yesus dan Maria. Dengan cara ini ia melakukan perannya dalam rencana Allah, dan menjadi berkat tidak hanya bagi Keluarga Kudus, melainkan juga berkat bagi seluruh umat manusia. Bersama Maria, Yosef menjadi teladan untuk kanak-kanak Yesus sembari ia tumbuh dalam kebijaksanaan, usia dan kasih karunia bdk. Luk 252. Ketika keluarga membawa anak-anak ke dalam dunia, mendidik mereka dalam iman dan menanamkan nilai-nilai, serta mengajarkan mereka untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat, dengan cara demikian mereka menjadi berkat bagi dunia kita. Kasih Allah dinyatakan dan aktif lewat keteladanan kasih kita, dan melalui perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan. Kami memperluas kerajaan Kristus di dunia ini. Dan dalam melakukan hal ini, kita membuktikan diri kita setia pada misi kenabian yang telah kita terima di dalam tahun ini yang ditetapkan oleh uskup-uskup kalian sebagai Tahun Bagi Kaum Miskin, saya meminta Anda sekalian, sebagai keluarga-keluarga, untuk secara khusus memperhatikan panggilan kita untuk menjadi murid-murid Yesus yang misioner. Ini berarti siap untuk melampaui rumah Anda dan untuk peduli kepada saudara-saudari kita yang paling membutuhkan. Saya meminta Anda sekalian untuk terutama menunjukkan kepedulian terhadap mereka yang tidak memiliki keluarga mereka sendiri, khususnya mereka yang sudah lanjut usia dan anak-anak tanpa orang tua. Jangan biarkan mereka merasa terasingkan, sendirian dan ditinggalkan, tetapi bantulah mereka untuk menyadari bahwa Allah tidak melupakan sangat tersentuh setelah Misa hari ini ketika saya mengunjungi tempat penampungan bagi anak-anak tanpa orang tua. Sudah berapa banyak orang dalam Gereja yang mengusahakan sehingga rumah itu benar-benar menjadi rumah, berapa banyak keluarga? Inilah arti sebenarnya dari mengedepankan, secara kenabian, makna sejati dari keluarga. Anda sendiri mungkin juga miskin secara materi, tetapi Anda memiliki berlimpah hadiah untuk ditawarkan saat Anda memberikan kepada mereka Kristus dan komunitas Gereja-Nya. Jangan sembunyikan iman Anda, jangan menyembunyikan Yesus, tetapi bawalah Dia ke dalam dunia dan berikanlah kesaksian hidup keluarga Anda!Sahabat-sahabat terkasih dalam Kristus, ketahuilah bahwa saya selalu berdoa bagimu! Saya berdoa agar Tuhan dapat terus memperdalam cintamu akan Dia, dan agar cinta ini dapat dimanifestasikan dalam cintamu satu sama lain dan bagi Gereja. Seringlah berdoa dan bawalah buah-buah dari doamu ke dalam dunia, sehingga semua orang dapat mengenal Yesus Kristus dan belas kasih-Nya. Tolong doakanlah juga saya, karena saya sungguh-sungguh membutuhkan doa-doamu dan akan selalu bergantung pada doa-doamu selalu!
Menjadi Keluarga Allah di Luar Ramadhan Oleh Hamzah Saifuddin Staff Pengajar Ma’had Aly An-Nuur إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ اَلله اَكْبَرُ، اَلله اَكْبْرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، لَااِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ Khutbah Pertama Download PDF di sini. Allahu akbar kabira walhamdulillahi katsira wa subhanallahi bukratan wa ashila, la ilaha illallah wallahu akbar allahu akbar walillahil hamd. Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankan khatib mengajak para jamaah sekalian untuk selalu mensyukuri segala nikmat yang luar biasa ini. Nikmat kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan suatu apapun. Kebahagiaan bertemu secara sempurna dengan bulan ramadhan, semua itu datangnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah dari Allah semata, termasuk nikmat bertemu dengan hari raya Idul Fitri kali ini. Shalawat beriringkan salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada uswatun hasanah umat Islam, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada keluarganya, para sahabatnya, tabi’in, tabiut tabiin. Bulan Ramadhan telah usai, kini ia telah pergi meninggalkan kita semuanya, beserta kemuliaan dan keutamaannya. Maka pada momentum kali ini, khatib mengajak kepada jamaah sekalian untuk tidak kendur dalam menjalankan amal shalih, walaupun Ramadhan sudah tidak bersama kita lagi. Ramadhan adalah momen pembentukan karakter seorang muslim, penggemblengan jasad dan jiwa untuk terus terbiasa dalam melakukan amal shalih, terutama membaca Al-Qur’an, qiyamul lail, dan puasa. Oleh sebab itu mari kita jaga bersama apa yang sudah kita biasakan di bulan Ramadhan dan kita praktikkan kembali di bulan-bulan selanjutnya, sehingga kita bisa menjadi orang-orang yang beruntung, sebagaimana perkataan yang menyebutkan مَنْ كَانَ يَوْمِهِ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ “Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia menjadi orang yang beruntung.” Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar walillahil hamd. Jamaah shalat Idul Fitri rahimani wa rahimakumullah. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai keluarga di dunia, keluarga yang anggotanya dipilih langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Alangkah bahagianya ketika ada seorang muslim yang dipilih oleh Allah untuk menjadi keluarga-Nya. Artinya, ketika Allah sudah memilih hamba-Nya maka hamba tersebut bukanlah hamba yang sembarangan, dia memiliki keistimewaan yang sungguh luar biasa diantara hamba yang lainnya. Di dalam kitab Syarh Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa orang yang dipilih oleh Allah menjadi keluarga-Nya adalah mereka yang sudah pasti menjadi wali Allah dan orang yang dicintai oleh Allah. Lalu apa keuntungan ketika kita menjadi keluarganya Allah? Di dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebutkan, فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ. رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ “Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang digunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang digunakan untuk memegang dan Aku menjadi kakinya yang digunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada–Ku pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada–Ku pasti Aku akan melindunginya.” HR. Bukhari. Maka Syaikh Shalih al-Utsaimin memberikan penjelasan dalam kitab Syarh Arbain Nawawi bahwa janji Allah kepada mereka adalah dengan ditunjukkan kepada perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya dan setiap permintaannya akan dikabulkan oleh Allah, jika dia butuh pertolongan, perlindungan Allah akan melindunginya. Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar walillahil hamd. Jamaah shalat Idul Fitri rahimani wa rahimakumullah. Pertama adalah Menjadi Ahli Qur’an. Ada dua amalan yang hendaknya dilazimi oleh seorang hamba agar terpilih menjadi keluarga Allah subhanahu wa ta’ala. Amalan yang pertama adalah menjadi ahli Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِك، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلّهِ أَهْلِيْنَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ هُمْ أَهْلُ القرآنِ، أَهْلُ اللهِ وَخَاصَتُهُ. رواه أحمد “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga diantara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapa mereka ya Rasulullah?” Rasul pun menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya.” HR. Ahmad. Keluarga Allah yang pertama adalah mereka ahli qur’an, orang yang menjadikan aktivitas membaca Al-Qur’an sebagai rutinitas. Tiada hari dan waktu yang ia gunakan untuk kegiatan yang sia-sia kecuali untuk membaca Al-Qur’an. Maka dari itu, orang yang membiasakan diri membaca Al-Qur’an, mereka akan dijadikan oleh Allah sebagai keluarga-Nya. Para ulama menyebutkan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an memiliki dua tipe. Pertama adalah mereka yang membaca secara lafdziyah dan kedua adalah mereka yang membaca secara hukmiyah. Maksud membaca Al-Qur’an secara lafdziyah adalah membaca Al-Qur’an sebagaimana umumnya manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda عَنْ اِبْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأ حَرْفاً مِنْ كِتاب الله فَلَهُ حَسَنَة، والحَسَنَة بِعَشْرِ أمْثَالِها، لا أقول ألم حَرفٌ، ولكِنْ ألِفٌ حَرْفٌ، ولاَمٌ حَرْفٌ، ومِيمٌ حَرْفٌ . رواه الترمذي “Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan semisalnya. Aku tidak mengatakan Alif lam mim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf.” HR. Tirmidzi Adapun maksud membaca secara hukmiyah adalah memahami hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, termasuk juga melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, lalu membenarkan apa yang dikabarkan oleh Allah didalam Al-Qur’an. Di dalam hadits di atas juga dinyatakan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an entah itu lafdziyah maupun hukumiyah dan ia menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan maka janji Allah akan dijadikan sebagai keluarga-Nya Allah. Maka sungguh beruntung seorang muslim yang menjadikan tilawatul qur’an sebagai rutinitas di luar bulan Ramadhan. Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar walillahil hamd. Jamaah shalat Idul Fitri rahimani wa rahimakumullah. Kedua adalah Memakmurkan Masjid. Amalan berikutnya yang harus dilazimi oleh seorang hamba agar terpilih menjadi keluarga Allah subhanahu wa ta’ala adalah senantiasa memakmurkan Masjid. Allah berfirman dalam Surat At-Taubah Ayat 18 إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” Ketika Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, beliau menyebutkan sabda dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ “إِنَّمَا عُمَّارُ المَسَاجِدَ هُمْ أَهْلُ اللهِ “Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid, mereka adalah Ahlullah keluarganya Allah.” Hadits tersebut menyampaikan kepada kita tentang fadhilah keutamaan orang-orang yang memakmurkan masjid Allah dan Allah menggolongkan mereka menjadi ahlullah, keluarganya Allah. Maka dari sini kita dapat memahami bahwa masjid-masjid Allah itu adalah rumah Allah, artinya orang yang menjaga, merawat, dan memakmurkannya, mereka akan diberi balasan yang sungguh luar biasa dari Allah subhanahu wa ta’ala. Jamaah shalat Idul Fitri rahimani wa rahimakumullah. Di bulan Ramadhan masjid-masjid akan selalu ramai. Entah itu di pagi hari, siang hari, bahkan di malam pun tak sedikit orang yang memilih tidur di masjid daripada tidur di rumahnya. Hal itu karena di bulan Ramadhan kita mengerti bahwa segala amal shalih yang dikerjakan akan dilipat gandakan. Maka kebiasaan inilah yang harus kita lestarikan bukan hanya di bulan ramadhan saja. Kewajiban memakmurkan masjid bukan hanya kewajiban takmir saja. Akan tetapi bagi siapa pun kaum muslimin, berkewajiban untuk menjadikan masjid di dekatnya menjadi makmur. Sebab salah satu misi diberdirikannya masjid adalah untuk digunakan sebagai tempat ibadah kaum muslimin. Maka bagaimana mungkin ada orang Islam yang tidak mau meramaikan masjidnya, ia malah alergi dengan tempat ibadahnya sendiri. Hal demikian tentulah kita semua tidak menginginkannya. Di dalam kitab Ummarul Masajid Maknawiyah wa Fadhluha disebutkan bahwa salah satu efek positif ketika masjid itu bisa ramai adalah akan menguatkan ukhuwah Islamiyah kaum muslimin. Demikian karena masjid merupakan tempat yang menjadi pusat berkumpulnya kaum muslimin tak kurang 5 kali dalam sehari. Karena itulah setiap muslim berkewajiban untuk selalu memakmurkannya agar ukhuwah kaum muslimin bisa semakin solid. Adapun mereka yang enggan untuk merapat ke masjid maka ia bagaikan hewan yang menjauh dari gerombolannya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الإِنْسَانِ كَذِئْبِ الغَنَمِ يِأَخْذِ الشَّاةَ القَاصِيَّةَ وَ النَّاحِيَّةَ، فَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابِ وَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَالعَامَّةِ وَالمَسْجِدِ. رواه أحمد “Sesungguhnya setan adalah serigala bagi manusia, seperti serigala bagi kambing, yang memakan kambing yang sendirian. Takutlah pada perpecahan dan tetaplah bersama jamaah yakni kebanyakan manusia golongan besar orang mukmin dan masjid” HR. Ahmad Kalaulah ada seorang muslim yang menjauh dari masjid tentu ia akan dijadikan target utama bagi setan untuk digelincirkan agar bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar walillahil hamd. Jamaah shalat Idul Fitri rahimani wa rahimakumullah. Perlu kita pahami bersama bahwa orang yang memakmurkan masjid bukan hanya orang yang membangun bangunannya. Akan tetapi termasuk orang yang mengajak manusia untuk mendekat kepada masjid, menjadikan masjidnya ramai dengan jamaah dan ibadah sehingga masjid bisa memberikan manfaat yang luas kepada masyarakat secara umum. Jangan sampai masjid-masjid di daerah kita hanya ramai setahun sekali, jangan sampai masjid kita hanya ramai di bulan ramadhan saja, tapi jadikan masjid kita menjadi masjid yang selalu ramai setiap waktunya. Pada hari Kiamat Allah akan memanggil orang yang memakmurkan rumah Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari sahabat Anas bin Malik إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُنَادِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ جِيرَانِي؟ أَيْنَ جِيرَانِي؟ فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ رَبَّنَا، وَمَنْ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُجَاوِرَكَ؟ فَيَقُولُ أَيْنَ عُمَّارُ الْمَسَاجِدِ؟ “Sesungguhnya Allah menyeru pada hari Kiamat, Di mana kah tetanggaku? Di mana kah tetanggaku?’ Maka para Malaikat berkata, Wahai Rabb kami, siapa yang menjadi tetanggamu?’ Maka Allah menjawab, Di mana kah orang yang memakmurkan masjid?” Itulah balasan yang Allah berikan kepada orang-orang yang memakmurkan masjid. Bahkan di dalam hadits yang lain Allah berjanji kepada orang yang hatinya selalu terikat dengan masjid, hatinya selalu terpaut dengan masjid, akan menaunginya di mana saat itu tidak ada naungan yang bisa menaunginya kecuali hanya naungan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah di dalam naungannya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Yaitu imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya, seseorang yang hatinya bergantung di dalam masjid.” HR. Bukhari Meskipun Ramadhan telah usai, mari kita jadikan kebiasaan yang sudah terbangun menjadi kebiasaan di luar bulan Ramadhan. Maka kesempatan yang sungguh luar biasa yang harus kita dapatkan adalah menjadi keluarganya Allah, yaitu dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an dan juga berusaha untuk terus memakmurkan masjid Allah subhanahu wa ta’ala. Khutbah Kedua Jamaah shalat Idul Fitri rahimani wa rahimakumullah. اللهُ اَكْبَرُ ٣× اللهُ اَكْبَرُ ٤× اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ Mari kita tutup Khutbah pada kesempatan kali ini dengan berdoa kepada Allah, إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَقِرَاءَتَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَسْبِيْحَنَا وَتَهْلِيْلَنَا وَتَمْجِيْدَنَا وَتَحْمِيْدَنَا وَخُشُوْعَنَا يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العَالَمِيْن إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Salah satu kebahagiaan umat Islam adalah ketika mendapatkan surga kelak di akhirat, dan itu merupakan janji Allah SWT. Pertanyaannya apakah keluarga di dunia akan berkumpul kelak di akhirat? Kendati Allah SWT merahasiakan nikmat-nikmat yang akan diberikan kelak sebagaimana firman berikut فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” QS As-Sajadah 17 Namun, sejumlah ulama salaf menegaskan bahwa di antara kebahagiaan umat Islam kelak di surga adalah bertemu kembali dengan keluarga yang dia cintai di dunia. Hal ini setelah mereka mendapatkan rahmat Allah SWT dan syafaat Rasulullah SAW. وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ Wallażīna āmanụ wattaba'at-hum żurriyyatuhum bi`īmānin alḥaqnā bihim żurriyyatahum wa mā alatnāhum min 'amalihim min syaī`, kullumri`im bimā kasaba rahīn “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” QS At-Thur 21 Ibnu Abbas, mengomentari ayat ini dengan menjelaskan Allah akan mengangkat derajat keturunan seorang mukmin meskipun berbeda tingkat amalnya sebagai pelipur lara baginya. Kemudian dia membaca surat At-Thur 21 di atas. Penegasan ini sebenarnya senada dengan janji Allah SWT yang ada dalam surat Ar’Rad ayat 23 جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ “yaitu surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” Dalam kitabnya Tafsir al-Quran al-Adhim, Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat ini, bahwa Allah SWT akan mengumpulkan orang-orang mukmin dengan orang yang mereka cintai dari bapak, istri, dan anak-anak, yang memang pantas masuk surga sebagai pelipur lara baginya, bahkan dia akan mengangkat derajat keluarganya yang dalam level rendah itu menjadi level tinggi, tanpa mengurangi derajat sang mukmin yang tinggi tersebut, sebagai anugerah dari Allah SWT. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
keluarga allah di dunia